Semesta pekat, diam, berlagak tenang. Ada sebuah titik muncul menarik perhatian pada lengkung batas. Horison yang meledak dalam senyap. Pancaran sinar itu luruh merata, menyebar kesegala arah, transversal, longitudinal, diagonal dan acak.. Hamparan energi yang impulsif dengan diaroma yang indah.Pelangi, memang tidak muncul saat malam, namun ruang selayaknya segala, selalu akan berhenti pada saat keindahan datang. Supernova meledak sejenak dan yang terpana hanyalah diam dalam diam. Ya semesta memang cuma diam dan tak berkata, melangkahi zaman yang makin lapuk, menjadi saksi, menatap bintang-bintang baru yang lahir kemudian mati, juga kelahiran, kematian, putus asa dan harapan.
Seorang pendongeng berkata, bahwa setiap bintang mewakili jiwa yang hidup dan ketika sebuah bintang redup ada sebuah kehidupan tercerabut. Tapi, benarkah ruang mengambil hidup, waktu menyurutkan harapan dan putus asa adalah bagian tak lepas dari hidup? Bukankah katanya harapan tak boleh mati ?, bukankah bahkan bila engkau menginginkan sesuatu seluruh semesta akan membantumu menggapainya ?.
Tapi, langit cuma diam dan gelap pekat itu seakan tanpa harapan. Sebuah suar hidup berkelip diatas sana, masihkah ada harapan ? apakah itu pesan ?. Semesta cuma diam dan tanyaku tidak juga terjawab. Belum mungkin. Ya, kita cuma bisa berharap mungkin pada bintang diatas sana. Mungkin ???
read more "El Loyality (ruang pertama-script)"