Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Bibir Onrust di ujung pagi


Di ujung pagi, 

kekasih menghaturkan selamat ke haribaan harapan,
dan janji bertemu malam nanti,
di pelosok mimpi yang (aku) tiada

entah di Onrust, 
entah di Amboina, 

perahu, 

malam, 

bintang, 

pondok, 

dan pantai

ialah   bayang terpahat di atas pasir,

lenyap disapu air tinggi,
lapuk dimakan waktu,
hancur dilumat (racun) bibir malam

dan pada pojok mimpi kekasih
pada larut malam-malam yang luruh

hanya kutemukan dia,  kamu
pada sayang yang dahulu, aku! 

read more "Bibir Onrust di ujung pagi "

Yang (belum) Selesai






Dua cangkir kopi, setengah botol air mineral dan jeruk setengah masam, tergeletak di atas meja. Di sampingnya, dua tubuh diam membatu. Di depan ada Danau Batur, di langit, burung berenang seakan tanpa beban, sedangkan di kedalaman, ikan melayang rendah di antara awan putih yang memantul di cermin danau. Langit sudah hampir sore, dan tempias biru-hijau yang payau, teduh mewarnai langit. Siang segera beranjak, bersalin rupa.

“Apa yang ingin kau temukan dalam hidup?

” Dira mengucapkan kalimat itu hampir bergumam. 

Aku diam saja, pura-pura tak mendengar...

Terus terang aku bingung. Aku memang tak pernah benar-benar paham apakah Dira sedang bertanya atau memberikan pernyataan. Keduanya terlalu tipis sebagai bunyi. Juga intonasi ketika baris kata itu meloncat dari bibirnya tak pernah benar aku mengerti.

Mulutnya hanya sedikit terbuka dan wajahnya berpaling menjauhi wajahku. Bibirnya seperti tak bergidik, seakan-akan bukan lidahnya yang bicara.

Aku belum pernah ikut kursus membaca gerak bibir, pun, pada hampir sore begini aku tak ingin banyak bicara. Beberapa tahun ini, aku sudah melatih diriku sendiri untuk tak jadi sentimentil, teruya di kala senja luruh.

read more "Yang (belum) Selesai"

Pergi supaya pulang!





Masa muda meramu rupa-rupa wajah besok

Piarakan asa dan mimpi tentang hari depan


Melangkah jauh wahai orang muda

Biar langkah keluar dari kelam

Agar cahaya menghangati harapan


Turunlah ke jalan, 

Biar curam, walau berkelok

biar jauh jalan membawa jiwa pulang


karena pergi, 

biar sebentar membebaskan rindu

melekatkan kembali tiap-tiap kaki menapak


pergilah selagi muda

supaya mimpimu tegak, tak tenggelam

supaya kau mengerti, 


kapan waktunya pulang!


read more "Pergi supaya pulang! "

RINDU!

 

aku menulis pada duka yang ialah daku,

jua langit basah saat mata bertemu,

dan hangat lembah pagi..


saat benih ditabur 

oleh nelayan yang petani

mereka yang pergi menuju pulang


risau ini bimbang kekasih yang pendam,

huruf yang gagal diketik,

gema yang tersimpan dalam lemari,

peluk dan cium yang tiada pertanda,


dan ketika tinta tiba di baris terakhir hujan

jua kertas penghabisan dari yang semula

aku tak jua tuliskan...

RINDU! 



read more "RINDU!"

Senyum berbuah ember (*cerpen)


Tak ada yang pernah bisa sangat tahu bagaimana tepatnya cinta mereplikasi diri dalam hati manusia, dia juga tidak. Yang dapat dibayangkannya hanyalah sekian alasan dan sebab yang mengantarkan perasaan pada alamat yang bernama hati. Yang dapat diuraikannya hanyalah cerita-cerita tentang bagaimana cinta menemukan hati, ataukah justru sebaliknya hati yang menemukan cinta. Akh... itupun kata-kata yang terlanjur membingungkan.

Bagi Kinar hidup tak akan pernah lagi sesederhana sediakala. Peristiwa demi peristiwa beberapa tahun ini telah mengajarinya untuk tidak lagi menjadi impulsif, menjadi tergesa-gesa dan  terlampau ceroboh dalam mengambil keputusan. Dia telah berketetapan hati, dia tak akan pernah lagi mengambil keputusan hanya dalam satu detik.

Hari ini adalah bukti tabungan kesabaran detik demi detik itu. Saat ini adalah total dari semua keberanian yang dihimpunnya sejak lama untuk menentukan hal penting bagi dirinya sendiri. Momen inilah saatnya menjadi egois bagi dirinya sendiri. Ini saatnya tiba pada kesimpulan yang sangat individualis.

read more "Senyum berbuah ember (*cerpen)"

El Loyality (script) Denting Harmoni




S
aat ini dia yakin bahwa denting dalam benaknya masih mampu membentuk sebuah harmoni. Bahwa pada setiap simpul rasa, manusia memiliki intuisi yang cukup untuk menerbangkan apa saja dengan dengan sayap imaji yang lapang, bahwa kata-kata bisa berlari telanjang tanpa peduli dengan makna, bahwa emosi dapat menjadi promosi dan atau demosi dalam hidup dan air mata, air mata bisa menjadi mutiara................. !

Dia menatapnya kembali seakan terjun kemasa silam dan tidak dapat berhenti. Matanya masih sementara mencari pijakan yang cukup kuat.

Jangan katakan aku tak ber-massa- 
Dalam dimensi yang tak mampu berkata

Cairku adalah pekatku
Terang antara Gelap
Walaupun bukanlah - abu-abu -

namun sebentuk cahaya
yang mengangkasa oleh prisma
pun, tetap sebentuk zat


read more "El Loyality (script) Denting Harmoni"

in memoriam of senioritas (*cerpen)



“ Senioritas semakin jauh dari ganknya. Aktivitas kampus yang lumayan ekstrim dan amat ditakuti oleh yuniornya itu tidak pernah lagi menampakkan diri akhir-akhir ini. Perlahan namun pasti pergi dari peredaran. Ujung-ujungnya, gank-nya yang dulu sampai membuat stres ( tapi tetap punya kharisma ) mulai kehilangan power “.

Brengsek, anak baru yang katanya anak pejabat itu kurang ajar bener sama gue. Masa dia nolak waktu gue suruh ngambil air di kantin” ada salah satu kroco senioritas yang konon jago mukul dengan trik tendangan bayangan tanpa disadari yunior. Hanya bisa complain nggak mampu bertindak lebih.

“Ah itu sih masih bisa ditolerir. Kali aja kakinya keseleo atau mentalnya lagi nyakit. Lha gue ? bener-bener dilecehin yunior waktu lari siang kemaren. Malah ada yang suit-suitin tahu nggak lu? Dulu, mana berani kita tetap tinggal di tempat kalau ada senior yang dihukum. Spontan kabur kayak lihat hantu” versi lain yang cukup memerahkan telinga.

read more "in memoriam of senioritas (*cerpen)"

Resah tepi jalan (penantian oleh deras hujan)

Seribu cahaya lintasi waktu
merentang cerita dari bermacam rupa beralas aspal
menjajarkan maksud-maksud hari ini
dengan sembilu sesal kemarin jua harapan esok pagi

apa makna kesunyian dlm cahaya sepi itu

bergeming menatap lenguh yg sepadu dengan jenaka
tersudut pada bingarnya malam dan sepinya pagi
ataukah merenangi makna demi kata tanpa bisa menyata

lalu dimanakah kata-kata menetap

pada desah dua tubuh yang menyatu
dlm jenaka yg berbisik dari dua senyum di sudut taman
diantara mentari yang indah bersabar menanti malam saat terbenam
ataukah ketika mimpi secercah bisa menepi menjadi nyata

sejuta milyar cahaya berlomba lintasi rupa waktu

menelantang cerita dalam barisan-barisan yang hendak bermakna
mengugurkan tanya pada sikap yang riuh bicara
apakah makna kesunyian tepi hati
dan dimanakah bahagia menetap.

M Burhanudin B

kedai pasir putih
hari enam saat hujan bulan november
read more "Resah tepi jalan (penantian oleh deras hujan)"

El Loyality (ruang pertama-script)



Prolog,
Semesta pekat, diam, berlagak tenang. Ada sebuah titik muncul menarik perhatian pada lengkung batas. Horison yang meledak dalam senyap. Pancaran sinar itu luruh merata, menyebar kesegala arah, transversal, longitudinal, diagonal dan acak.. Hamparan energi yang impulsif dengan diaroma yang indah.Pelangi, memang tidak muncul saat malam, namun ruang selayaknya segala, selalu akan berhenti pada saat keindahan datang. Supernova meledak sejenak dan yang terpana hanyalah diam dalam diam. Ya semesta memang cuma diam dan tak berkata, melangkahi zaman yang makin lapuk, menjadi saksi, menatap bintang-bintang baru yang lahir kemudian mati, juga kelahiran, kematian, putus asa dan harapan. 

Seorang pendongeng berkata, bahwa setiap bintang mewakili jiwa yang hidup dan ketika sebuah bintang redup ada sebuah kehidupan tercerabut. Tapi, benarkah ruang mengambil hidup, waktu menyurutkan harapan dan putus asa adalah bagian tak lepas dari hidup? Bukankah katanya harapan tak boleh mati ?, bukankah bahkan bila engkau menginginkan sesuatu seluruh semesta akan membantumu menggapainya ?. 

Tapi, langit cuma diam dan gelap pekat itu seakan tanpa harapan. Sebuah suar hidup berkelip diatas sana, masihkah ada harapan ? apakah itu pesan ?. Semesta cuma diam dan tanyaku tidak juga terjawab. Belum mungkin. Ya, kita cuma bisa berharap mungkin pada bintang diatas sana. Mungkin ???

read more "El Loyality (ruang pertama-script)"

Jika Kau Mengerti | *cerpen


Dia selalu bercerita padaku kalau mereka berdua selalu berjanji untuk bilang “ I Love You “ setiap kali mereka berpisah, setiap hari. Dia juga bilang, kalau diakhir semua pertemuan, dia selalu akan melihat kebelakang setelah berlalu beberapa langkah.

Katanya dia ingin memastikan tiap hati mereka selalu saling merindu. Dia selalu ingin memastikan bahwa mereka berdua tak berpaut atas jarak dimana mata mereka tak saling memandang. Katanya, dia ingin memastikan kalau mereka selalu merasa jatuh cinta setiap hari.


Akh….Aku selalu membayangkan setiap peristiwa-peristiwa itu dengan sangat indah. Mengkhayalkannya sebagai sesuatu yang membelai di dalam perasaan. Bahkan aku telah  menempatkannya sebagai momen melankolis di dalam hatiku sendiri. Entah bagaimana aku selalu menempatkan semua remah kenangannya sebagai cermin bagi diriku sendiri, sampai-sampai pada titik tertentu aku seringkali merasa emosi itu sudah menjadi empati yang terlampau berlebihan. Bahkan omong kosong dan terus terang konyol untuk senantiasa dilibatkan dalam pikiran, berulang-ulang. 


Tapi bagaimana lagi, hidupku sudah berpaut dalam cerita-cerita itu melalui cara yang tak bisa kuurai sendiri. Aku sudah berendam kusut dalam kolam dingin perasaannya terlampau lama hingga tak ingat jelas lagi kapan awalnya dan akan bagaimanakah aku tenggelam. Aku terlanjur menangkap diriku dalam bayang-bayang kenangannya.

read more "Jika Kau Mengerti | *cerpen"

Penemuan Jati Diri (seorang hamba?)

” Penemuan jati diri seorang Hamba “. kalimat judul sebuah puisi ini betul-betul menarik hati saya untuk berkomentar. bukan karena penulisnya adalah seorang yang telah cukup punya nama dalam konstelasi perpuisian nasional atau karena substansinya betul-betul sesuatu yang teramat penting untuk dikomentari, seperti yang sedang ramai dibicarakan media dalam terminologi terorisme dan dalang-dalang teror saat ini. tetapi hanya karena tema ini kebetulan sedang pas dengan suasana hati saya. Sama seperti anda yang mungkin suka dengan sebuah lagu baru saat ini karena liriknnya pas dengan kondisi kemanan dan ketertiban dalam jagat persemayaman raga anda.

Menemukan jati diri itu bukankah berarti menjadi diri sendiri, memiliki kecendrungan berpikir, bertindak dan berolah pikir sendiri ? Jawabannya ya atau tidak ? Bila jawabannya ya maka saya mungkin setuju bila kita semua tidak pernah menjadi diri sendiri. Toh sikap dan semua kecendrungan berprilaku kita ini warisan kultural, titipan psikologis dari zaman yang melahirkan kita kedunia, sikap dan tindak tanduk kita dibangun oleh kecendrungan pergerakan alam yang membesarkan kita. Maka manusia mungkin tidak pernah merupakan produk orisinil dari dirinya sendiri. Artinya dengan kata lain manusia itu mungkin hanya benda setengah manusia yang dimanusiakan oleh lingkungannya, yang juga berarti pabrik Tuhan hanya menghasilkan produk setengah jadi.

read more "Penemuan Jati Diri (seorang hamba?)"

el Loyality (puisi)

Tambatkan aku pada mata bintang
Saat massa menjadi limbung
Dan cahaya merekah redup

Temani diriku ketika ruang meluruh

Lenyap, tergabung dan menghilang

Panggil namaku, gelap akan menghampiri

Waktu mentari jadi bayangan
bintang kerlip pudar menghilang

hingga akhir hanyalah prolog

sedang awal menanti kehancuran

dalam ruangku, pada waktumu

there is nothing certain…….
but uncertanity !!!!!

..............................................................................



M Burhanudin B / @tero2_boshu
sebarisan kata2 goblok
saat jenuh datang sehabis menatap einstein
read more "el Loyality (puisi)"

melangkah atau berhenti ?



Apakah kita telah cukup ikhlas melepaskan sesuatu yang ingin kita miliki Ataukah kita seringkali hanya mundur beberapa langkah untuk kembali memulai langkah baru. Mungkin saja kemudian kita akan berlari untuk mendapatkannya tetapi berhenti sepertinya lebih dari mungkin ketika kita mulai merenung kembali untuk mundur. 

Apakah pengalaman cukup mengajarkan kita untuk belajar, ataukah segala keadaan yang terjadi hanya gambar-gambar lewat yang biasa. Seperti film yang sudah dua tiga kali kita tonton, dan kita telah tahu jalan ceritanya sehingga tanpa sadar ada elemen-elemen kecil yang kita kesampingkan. Mungkin kita belajar untuk mundur karena kita mengerti apa itu keadaan dan bagaimana harus menyikapinya, mengerti gambaran realitas dan tahu dimanakah posisi kita dalam realitas tersebut. Tetapi bila semua cerita seperti itu betapa dunia akan sangat menjadi tidak menarik.

Bila semua orang berpikir bahwa kepantasan dan ketidakpantasan selalu harus hadir dalam suatu garis pararel yang sama lurus dan satu rangkaian. Muhammad tidak mungkin rela menikahi khadijah yang janda dan charles mana boleh menikahi Diana si guru TK betapapun dia juga bangsawan. Lalu memangnya aku boleh merindukan matari itu. Kalau semua warna dan persepsi harus hanya ada dalam garis hitam dan putih betapa sulit kita mengartikan keindahan bunga.

read more "melangkah atau berhenti ?"