Banda: Ironi dan Harapan.

BANDA: IRONI DAN HARAPAN

(Resensi Pendek Film Banda, The Dark Forgotten Trail)





Banda adalah sebuah ironi. Bertahun lalu, kalimat pendek itu ialah kesimpulan segera setelah membaca Banda karya Willard A Hanna. Malam kemarin, menyaksikan Banda the dark forgotten trail saya merasakan kegetiran serupa. 

Banda memang adalah semacam ironi. Kepulauan Banda, Gugusan kepulauan penghasil pala yang ratusan tahun lalu menggerakan petualang bangsa-bangsa itu kini hanyalah sebuah pojokan sepi di teater sejarah. Hari-hari dimana Rempah-rempah, utamanya Pala, dan Banda mempengaruhi sejarah dan ekspedisi bangsa-bangsa telah ditakdirkan selesai sejak Inggris membawa Pala dan menanamnya di belahan bumi berbeda. Nyatanya episode kegemilangan Banda itupun adalah sebenarnya ironi, betapa tidak kegemilangan Banda pada periode petualangan samudera itu dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh penduduk pribumi dan bangsa-bangsa sepanjang Nusantara.
read more "Banda: Ironi dan Harapan."

Ambon Bercerita: Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !

Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !


Seorang pengunjung memperhatikan foto-foto yang dipamerkan di depan pension cafe, sebelum pembukaan.
Bagaimana seharusnya warga Ambon bercerita tentang kotanya ? 

Pertanyaan ini sesungguhnya bukan pertanyaan sederhana. Pada pertanyaan semacam ini, kehidupan harus dirangkum dalam beberapa kalimat padat yang runtut tanpa amputasi pada konteks. Maka itu, tak semua orang bisa menceritakan kotanya dengan baik tanpa terjebak pada tema-tema populer jua besar yang gempita di kepala banyak orang. Itu sebabnya seringkali orang harus dituntun bersahabat secara lebih rapat dengan kehangatan kota di dalam dirinya sendiri untuk lepas dari hal-hal umum disekitarnya. Pendeknya orang harus berlatih untuk lebih jujur pada diri sendiri bila hendak mengabdi pada kesederhanaan.

Pameran #ambonbercerita_1 yang diinisiasi molucca project dan paparisa #ambonbergerak sepertinya hendak memulai usaha menuntun warga kota ini terutama orang mudanya kepada kejujuran atas kota yang mereka tinggali. Ajakan kegiatan ini, sejak mula, adalah membiasakan warga Ambon untuk meresapi kotanya dengan mengucap pelan abjad kota dimana dia dibesarkan secara rohani melalui visual dan kata-kata. 

Theo (@perempuansore), inisiator pameran ini, menyatakan, kurang lebih, “tindakan kecil memanerkan foto-foto karya fotografer amatir yang menangkap kota melalui gawai berkamera ini bermaksud mendorong warga Ambon untuk menceritakan kecintaannya pada ambon dengan lebih jujur, juga sebagai penyeimbang narasi-narasi besar tentang Ambon, bahkan Maluku.  

read more "Ambon Bercerita: Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !"

Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !

source: globalnews.id


Tahun 2007, Chen dan Ravalion, keduanya akademisi Bank dunia, melaporkan bahwa angka kemiskinan absolut global telah turun secara drastis, terutama di Asia. Dunia, menurut keduanya akan segera menyaksikan berkurangnya separuh angka kemiskinan global. Nubuat itu 'terbukti'. Tahun 2010, salah satu dari target pertama Millennium Development Goals tercapai (World Bank 2013).

Sayangnya, kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu tak benar-benar disambut penuh gegap gempita. Sebagian cendekiawan meragukan klaim dan laporan Bank Dunia itu. Sanjay Reddy dan Camelia Minou (2007) misalnya menyebut kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu sebagai ‘tak konklusif’. Pangkal soalnya, data angka kemiskinan di India dan China, penyumbang terbesar turunnya angka kemiskinan global, tak dianggap reliable. Cendekiawan lain tak kalah keras bersuara. Sebagian secara khusus menyoroti  standar $1 per hari yang mereka anggap tak mewakili konsumsi minimal warga dunia, bahkan pada negara-negara paling miskin sekalipun. Kemiskinan, menurut cendekiawan-cendekiawan ini, boleh jadi tak sama sekali berkurang bila standar pengeluaran $2 per hari digunakan sebagai standard perhitungan.
read more "Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !"