Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !


Seorang pengunjung memperhatikan foto-foto yang dipamerkan di depan pension cafe, sebelum pembukaan.
Bagaimana seharusnya warga Ambon bercerita tentang kotanya ? Pertanyaan ini sesungguhnya bukan pertanyaan sederhana. Pada pertanyaan semacam ini, kehidupan harus dirangkum dalam beberapa kalimat padat yang runtut tanpa amputasi pada konteks.
Maka itu, tak semua orang bisa menceritakan kotanya dengan baik tanpa terjebak pada tema-tema populer jua besar yang gempita di kepala banyak orang. Itu sebabnya seringkali orang harus dituntun bersahabat secara lebih rapat dengan kehangatan kota di dalam dirinya sendiri untuk lepas dari hal-hal umum disekitarnya. Pendeknya orang harus berlatih untuk lebih jujur pada diri sendiri bila hendak mengabdi pada kesederhanaan.

Pameran #ambonbercerita_1 yang diinisiasi molucca project dan paparisa #ambonbergerak sepertinya hendak memulai usaha menuntun warga kota ini terutama orang mudanya. Ajakan kegiatan ini adalah membiasakan warga Ambon untuk meresapi kotanya dengan mengucap pelan abjad kota dimana dia dibesarkan secara rohani melalui visual dan kata-kata. Theo (@perempuansore), inisiator pameran ini, memang menyatakan kurang lebih bahwa “tindakan kecil memanerkan foto-foto karya fotografer amatir yang menangkap kota melalui gawai berkamera ini memang dimaksudkan untuk mendorong warga Ambon untuk menceritakan aspek-aspek kecintaannya pada kota ini dengan lebih jujur sebagai penyeimbang narasi-narasi besar tentang Ambon, bahkan Maluku.  

read more " "

Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !

source: globalnews.id


Tahun 2007, Chen dan Ravalion, keduanya akademisi Bank dunia, melaporkan bahwa angka kemiskinan absolut global turun secara drastis, terutama di Asia. Dunia, menurut keduanya akan menyaksikan berkurangnya separuh angka kemiskinan segera. Nubuat mereka 'terbukti'. Tahun 2010, salah satu dari target pertama millennium development goals tercapai (World Bank 2013).

Sayangnya, kesimpulan turunnya angka kemiskinan global tak benar-benar disambut penuh gegap gempita. Sebagian cendekiawan meragukan klaim dan laporan Bank Dunia itu. Sanjay Reddy dan Camelia Minou (2007) misalnya menyebut kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu sebagai ‘tak konklusif’. Pangkal soalnya, data angka kemiskinan di India dan China, penyumbang terbesar turunnya angka kemiskinan global, tak mereka anggap reliable. Cendekiawan lain tak jua kalah keras bersuara. Sebagian secara khusus menyoroti  standar $1 per hari yang mereka anggap tak mewakili konsumsi minimal warga, bahkan pada negara-negara paling miskin sekalipun. Kemiskinan, menurut cendekiawan-cendekiawan ini, boleh jadi tak sama sekali berkurang bila standar pengeluaran $2 per hari digunakan sebagai standard perhitungan.
read more "Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !"

Rasionalkah memilih dalam pemilu ?

foto dari ayovote.com
Diawal 80an, dua orang peneliti, Riker and Ordeshook, menerbitkan tulisan ilmiah tentang paradoks perilaku pemilih. Keduanya menulis berdasarkan tulisan terkenal Anthony Down di tahun 1957 An economic theory of democracy”.

Secara esensial, pokok pikiran kedua scholars ini dimaksudkan untuk menjelaskan paradoks memilih melalui tiga premis yang mereka anggap berlaku dalam segala rupa aktfitas manusia, termasuk dalam aktivitas berdemokrasi. Ketiga premis itu adalah p
ertama, warga negara pada dasarnya rational. Kedua karena masyarakat rational, keuntungan dari perilaku memilih sangat dipengaruhi oleh prakiraan tentang dampak perbuatan memilih tersebut terhadap perubahan atau katakanlah keuntungan pribadi sang pemilih. Lalu tidak itu saja, perilaku memilih juga dipengaruhi oleh biaya yang timbul sebagai akibat dari perbuatan memilih itu. Biaya, dalam konteks ini, tentu saja juga termasuk biaya hilangnya kesempatan  (opportunity cost) dari perginya seseorang ke TPS bila dibandingkan dengan melakukan hal lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Ketiga premis ini kemudian dikembangkan sebagai fondasi rumus Riker dan Ordershook untuk menghitung manfaat (utility/reward) memilih. Manfaat menurut mereka ditentukan oleh bertemunya keuntungan (benefit) dan kemungkinan (probabilitas) serta dipengaruhi secara negatif oleh biaya (cost). Sederhananya, Riker dan Ordeshook menghitung U = B x P - C. 

Berangkat dari rumus sederhana ini, perhitungan kemudian dilakukan untuk menjelaskan adakah hubungan perilaku memilih individu (dan atau tidak memilih) didasari oleh manfaat yang dirasakan oleh warga negara dari proses pemilu. Jawabannya dapat ditebak. Benefit yang secara rata-rata kecil dan probabilitas yang galibnya tak tentu membuat biaya sekecil apapun berujung pada kontraproduktifnya manfaat dari memilih. keuntungan dari ikut memilih dengan sendirinya selalu negatif dan mengindikasikan bahwa secara umum masyarakat seharusnya tidak melihat keuntungan dari ikut pemilu. 
Pendeknya, dalam konteks teori pilihan rational, pemilih terdidik seharusnya GOLPUT.
read more "Rasionalkah memilih dalam pemilu ?"