Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Yang (belum) Selesai






Dua cangkir kopi, setengah botol air mineral dan jeruk setengah masam, tergeletak di atas meja. Di sampingnya, dua tubuh diam membatu. Di depan ada Danau Batur, di langit, burung berenang seakan tanpa beban, sedangkan di kedalaman, ikan melayang rendah di antara awan putih yang memantul di cermin danau. Langit sudah hampir sore, dan tempias biru-hijau yang payau, teduh mewarnai langit. Siang segera beranjak, bersalin rupa.

“Apa yang ingin kau temukan dalam hidup?

” Dira mengucapkan kalimat itu hampir bergumam. 

Aku diam saja, pura-pura tak mendengar...

Terus terang aku bingung. Aku memang tak pernah benar-benar paham apakah Dira sedang bertanya atau memberikan pernyataan. Keduanya terlalu tipis sebagai bunyi. Juga intonasi ketika baris kata itu meloncat dari bibirnya tak pernah benar aku mengerti.

Mulutnya hanya sedikit terbuka dan wajahnya berpaling menjauhi wajahku. Bibirnya seperti tak bergidik, seakan-akan bukan lidahnya yang bicara.

Aku belum pernah ikut kursus membaca gerak bibir, pun, pada hampir sore begini aku tak ingin banyak bicara. Beberapa tahun ini, aku sudah melatih diriku sendiri untuk tak jadi sentimentil, teruya di kala senja luruh.

read more "Yang (belum) Selesai"

Banda: Ironi dan Harapan.

BANDA: IRONI DAN HARAPAN

(Resensi Pendek Film Banda, The Dark Forgotten Trail)





Banda adalah sebuah ironi. Bertahun lalu, kalimat pendek itu ialah kesimpulan segera setelah membaca Banda karya Willard A Hanna. Malam kemarin, menyaksikan Banda the dark forgotten trail saya merasakan kegetiran serupa. 

Banda memang adalah semacam ironi. Kepulauan Banda, Gugusan kepulauan penghasil pala yang ratusan tahun lalu menggerakan petualang bangsa-bangsa itu kini hanyalah sebuah pojokan sepi di teater sejarah. Hari-hari dimana Rempah-rempah, utamanya Pala, dan Banda mempengaruhi sejarah dan ekspedisi bangsa-bangsa telah ditakdirkan selesai sejak Inggris membawa Pala dan menanamnya di belahan bumi berbeda. Nyatanya episode kegemilangan Banda itupun adalah sebenarnya ironi, betapa tidak kegemilangan Banda pada periode petualangan samudera itu dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh penduduk pribumi dan bangsa-bangsa sepanjang Nusantara.
read more "Banda: Ironi dan Harapan."

Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !

source: globalnews.id


Tahun 2007, Chen dan Ravalion, keduanya akademisi Bank dunia, melaporkan bahwa angka kemiskinan absolut global telah turun secara drastis, terutama di Asia. Dunia, menurut keduanya akan segera menyaksikan berkurangnya separuh angka kemiskinan global. Nubuat itu 'terbukti'. Tahun 2010, salah satu dari target pertama Millennium Development Goals tercapai (World Bank 2013).

Sayangnya, kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu tak benar-benar disambut penuh gegap gempita. Sebagian cendekiawan meragukan klaim dan laporan Bank Dunia itu. Sanjay Reddy dan Camelia Minou (2007) misalnya menyebut kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu sebagai ‘tak konklusif’. Pangkal soalnya, data angka kemiskinan di India dan China, penyumbang terbesar turunnya angka kemiskinan global, tak dianggap reliable. Cendekiawan lain tak kalah keras bersuara. Sebagian secara khusus menyoroti  standar $1 per hari yang mereka anggap tak mewakili konsumsi minimal warga dunia, bahkan pada negara-negara paling miskin sekalipun. Kemiskinan, menurut cendekiawan-cendekiawan ini, boleh jadi tak sama sekali berkurang bila standar pengeluaran $2 per hari digunakan sebagai standard perhitungan.
read more "Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !"

Rasionalkah memilih dalam pemilu ?



Di tahun 1968, dua orang peneliti, Riker and Ordeshook, menerbitkan tulisan ilmiah tentang paradoks perilaku pemilih melalui the theory of the calculus of voting. Keduanya menulis berdasarkan tulisan terkenal Anthony Downs di tahun 1957 An economic theory of political action in democracy”
Secara esensial, pokok pikiran kedua scholars ini dimaksudkan untuk menjelaskan paradoks memilih melalui tiga premis yang mereka anggap berlaku dalam segala rupa aktfitas manusia, termasuk dalam aktivitas berdemokrasi. Ketiga premis itu adalah pertama, warga negara pada dasarnya rational. Kedua karena masyarakat rational, keuntungan dari perilaku memilih sangat dipengaruhi oleh prakiraan tentang dampak perbuatan memilih tersebut terhadap perubahan atau katakanlah keuntungan pribadi sang pemilih. Kemudian, perilaku memilih juga dipengaruhi oleh biaya yang timbul sebagai akibat dari perbuatan memilih itu. Biaya, dalam konteks ini, tentu saja juga termasuk biaya hilangnya kesempatan  (opportunity cost) dari tindakan memilih atau tidak memilih, bahkan termasuk biaya dari kesempatan yang hilang dari perginya seseorang ke TPS bila dibandingkan dengan melakukan hal lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Ketiga premis ini kemudian dikembangkan sebagai fondasi rumus Riker dan Ordershook untuk menghitung manfaat memilih. Manfaat (U/R),  dengan demikian, ditentukan oleh bertemunya keuntungan (Benefit/B) dan kemungkinan (probabilitas/P) serta dipengaruhi secara negatif oleh biaya (Cost/C). Sederhananya, manfaat memilih dapat dihitung dengan rumus U/R = (B x P) - C. 

Berangkat dari rumus dasar ini, perhitungan dilakukan untuk menjelaskan adakah hubungan perilaku memilih individu (dan atau tidak memilih) didasari oleh manfaat yang dirasakan oleh warga negara dari proses pemilu. Jawabannya dapat ditebak. Benefit yang abstrak dan probabilitas yang secara umum sangat kecil (mengingat jumlah populasi yang sangat besar) membuat biaya sekecil apapun berujung pada kontraproduktifnya manfaat dari memilih. Keuntungan dari ikut memilih dengan sendirinya selalu akan sama dengan nol atau negatif dan dengan demikian mengindikasikan bahwa secara umum masyarakat seharusnya tidak melihat keuntungan dari ikut pemilu. Pendeknya, dalam konteks teori pilihan rational, pemilih terdidik seharusnya GOLPUT.
read more "Rasionalkah memilih dalam pemilu ?"

senja di pesisir Nusaniwe | Photo


Nusaniwe tanjung alang labuhan raja |
pasir putih tanjung benteng manise | 
kapal-kapal dan perahu pun berlayar | 
masuk tanjung dan keluar tanjung e

lagu Nusaniwe by : Bing Leiwakabessy
PhotoDroids by : @tero2_boshu | terometamorfolio
read more "senja di pesisir Nusaniwe | Photo"

Bukan Orang Baik. Saya !



Kita berusaha menjadi orang baik.. Menjadi orang yang  tampak sempurna di hadapan semua orang. Dihadapan diri dan mata hati kita sendiri kita tahu kita bukan orang yang benar. Tidaklah orang yang lurus. Dihadapan mata hati kita sendiri. Saya dengan tegas bisa berkata. “ Saya bukan orang yang baik “.

Ini sebuah ungkapan yang terlalu sentimentil barangkali.. tapi inilah memang karat persoalan yang seolah sudah membatu dan menghalangi kemerdekaan berpikir dan berencana dalam hati. Inilah sempalan itu, noda yang menggerus nilai dan terkadang membuat hati terperangkap kesendirian saat diri semestinya merayakan kehilangan beban dan menerima masalah. Pendeknya, merayakan keniscayaan hidup. 
read more "Bukan Orang Baik. Saya !"

memposting sesuatu bermakna " Rindu " | a note to my self


moment of missing | Photo Taken By : @PesiwairssaNini
Saya sudah memikirkan judul ini bahkan sebelum memulai kata pertama, bahkan inilah kalimat pertama itu. Kalimat yang terngiang di kepala setiap kali melihat kertas dan blog teman-teman yang lain mempostingkan sebuah tulisan. Tulisan baru, tulisan segar yang berasal dari pikiran yang masih terus bicara dengan hati, dengan nurani yang berteriak, berbisik lemah dan atau sekedar merayu ketika menyaksikan realitas hidup. Saya dengan demikian memang sedikit buta atau rabun sehingga tak lagi bicara dan lalu memiliki semangat untuk menuliskan sebaris kalimat yang mungkin dapat beranak pinak menjadi sebuah tulisan. Sebuah bacaan yang berarti, setidaknya bagi diri sendiri.

Saya selalu berpendapat seseorang takkan bisa “menulis” tanpa benar-benar mengalami pengalaman nurani yang mendorongnya menulis. Seorang penulis yang baik “ menurut saya “  adalah pejalan abjad yang disusunnya, sama kiranya seperti seorang sutradara yang mengartikan script kedalam sebuah gambar yang lalu bicara kepada banyak orang. Karena itu, menjadi bagian dari cerita, bagi saya adalah keharusan.. entah itu dalam argumentasi atau opini. Bila tidak tulisan “mungkin” hanya akan sekedar menjadi perayaan literasi tanpa makna. Sebuah pesan yang tersampaikan tidak dengan gairah. Sebuah berita yang walaupun perlu akan membuat kita berpaling ketika sebuah dongeng diceritakan atau ketika sebuah berita di dongengkan. Sebuah kebosanan tak perlu yang berhimpit rapat diantara kertas digital yang bernama layar komputer atau kertas percetakan.

read more "memposting sesuatu bermakna " Rindu " | a note to my self"

Kompasiana dan Keran air



Entah kenapa judul ini yang berakar dalam kepala saya ketika diharuskan untuk menulis. Waktu sepuluh menit untuk menuliskan sesuatu adalah waktu yang tidak terlalu pendek, juga bukan sangat panjang, namun saya dapati sangat memaksa. Terlampau menjajah pikiran.

Pikiran dan tulisan tentu saja bukan keran air yang dapat mengalir begitu saja ketika keran diputar. Setidak-tidaknya sering seperti itu dalam kepala saya. Tulisan... menurut beberapa teman (btw ini teman fiktif yang saya ciptakan sendiri) adalah sebuah pergulatan pikiran, pergulatan ide.) sebuah proses melelahkan untuk menghisap empat sampai lima batang rokok dan dua gelas kopi pahit untuk menghasilkan beberapa paragraf.

Bahkan seorang penanya beberapa saat yang lalu sebeleum tulisan ini dibikin mempertahankan kesulitan menulisnya itu sebagai sebuah akut yang sama sekali “ menurut dia” tak berhubungan dengan kemampuan merunutkan cerita, gambar, konsep ide atau runtut. Nah... maka kenapakah kita harus menulis dalam waktu sepuluh menit dan tulisan macam apakah yang nanti saya hasilkan dari sepuluh menit proses berpikir yang saya cerewetkan ini.

read more "Kompasiana dan Keran air"

PNS (sebuah curhat tak tentu)


Public servant.  Kata itu dalam makna paling literal, paling harfiah bermakna pelayan publik. Pelayan masyarakat. Saya tidak tahu padanan kata itu dalam bahasa yang lain. Namun dalam bahasa indonesia. Public servant ini diterjemahkan dengan bebas sebagai pegawai negeri sipil. Padanan ini tentu kita dapati tidak sangat tepat !

Saya berpendapat bahwa sebutan pegawai negeri sipil itu tidak lebih dari gambaran mudah upaya mendikotomikan pekerja (pegawai.pen) yang bekerja untuk negeri (negara) dan sipil, dari pegawai negeri lain yang bukan sipil, melainkan militer.  Lebih jauh lagi sebutan itu, menurut saya hanyalah eufemisme untuk menyebut orang gajian yang menerima upahnya dari rakyat.

Tapi, mengapa meributkan sekedar padanan kata, singkatan dan atau penafsiran itu saat ini. Terutama setelah sekian tahun berada dalam pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil itu. Terus terang saya tidak bisa menjawab lebih jujur pertanyaan itu dari sekedar persoalan emosional saja.

read more "PNS (sebuah curhat tak tentu)"

Bing, sebuah nama, sebuah cerita !


Seni itu jujur... itu mengapa bermusik itu harus dari hati !

Sore itu, sabtu 22 Januari 2010 opa bing sedang berdiri sambil menggengam sebuah pigura berisi kertas berjudul “ bing sebuah puisi “. Puisi itu sendiri adalah nama dari acara spontan yang digagas oleh komunitas sastra Maluku beserta Kalesang Maluku dan Pait Manis project dihalaman rumah opa bing yang asri. Dalam acara yang seakan pesta taman itu, Kalimat tadi diucapkan opa bing dengan suara bergetar dari tenggorokannya. Emosi yang membuncah dalam dadanya itu, akhirnya keluar dengan serak yang tertahan. Sore itu di atas bukit lateri, kami juga seakan merasakan emosinya.

Bing leiwakabessy, atau Om Bing, atau Opa Bing, adalah panggilan akrab dari seniman bernama lengkap Johanes Leiwakabessy. Musisi yang lahir 88 tahun yang lalu itu adalah sedikit yang tersisa diantara musisi senior Maluku yang masih hidup untuk menceritakan bagaimana perjalanan musik Maluku membuat orang Maluku menerima sterotipe terhormat untuk talenta di bidang seni,  terutama musik.

Opa adalah juga sedikit dari seniman senior Maluku yang masih menyempatkan waktunya untuk selalu berinteraksi dengan musisi-musisi muda dari berbagai macam genre. Beliau adalah sosok yang rajin mendengarkan dan selalu punya cerita serta pendapat untuk perkembangan berkesenian di Maluku dan Indonesia saat ini. Kita bisa bertanya padanya di rumahnya atau menjumpainya di beberapa rumah kopi tempat dia biasa berinteraksi. Di simpul-simpul interaksi orang Maluku itu, Opa bercerita dan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak muda.

Tapi siapakah sebenarnya sang bing leiwakabessy dan apa yang telah dilakukannya, yang membuat dia pantas menyampaikan kalimat sebagaimana yang saya kutip sebagai pembuka untuk tulisan ini ?

read more "Bing, sebuah nama, sebuah cerita !"

Why we are (amboners) so into the politics "a question mark for ambonbergerak campaign"



Why Amboners are so into the politics?
Judul itu adalah topik diskusi yang melompat-lompat dan tanpa arah dengan beberapa orang teman setelah break siaran radio beberapa tahun yang lalu. Hari ini topik diskusi yang disebabkan oleh dipenuhinya rumah kopi oleh aktivis-aktivis LIPI (lembaga isu dan pengembangan informasi. gosip red) itu terngiang kembali setelah membaca komentar skeptis seorang teman di page AMBON BERGERAK tentang apakah AMBON BERGERAK tidak ada hubungannya dengan kekuatan politik tertentu menjelang musim pilkada di kota Ambon (*teman itu sepertinya ga terlalu percaya dengan tulisan  bahwa Ambon bergerak bukan gerakan politik)

Well, even that we know exactly the answer to that question. Pertanyaan itu nyatanya memberi peringatan dan mengetuk kepala kami dengan agak keras. Bro, you guys gotta stay focus on the objectives. Kami menjadi lebih aware dan kemudian sadar bahwa kami memang harus mengkampanyekan semangat ini terus menerus. percaya atau tidak kompleks politik yang terlalu besar dalam cara berpikir orang Ambon dan tak terkecuali juga orang muda ambon adalah salah satu alasan mengapa kami mengkampanyekan Ambon bergerak

read more "Why we are (amboners) so into the politics "a question mark for ambonbergerak campaign""

memaafkan diri sendiri

Air itu terdengar meriak-riak tersapu angin, mentari senjakala ini melembayung merah ceria. Semua gambar itu berpendar mengantar ketenangan. Disudut ini aku terpekur menatap pasir yang tersucikan tangisan laut. Samudra pengampunan kini terbentang luas. Terhampar seakan tanpa ujung. Terkadang kita memang lupa bahwa kita hanya menatapnya samar tanpa tersadar. 
 
Lebaran datang lagi tahun ini dan rasanya baru kemarin kita berzikir, bertakbir dan bertahmid memuji namaNya juga bergembira dalam momen yang sama. Ya rasanya memang baru kemarin. Kini kita akan segera menjelang kembali lebaran itu. Ditengah maghrib yang saat ini sedang melangkahi awan kita terharu, mata kita terasa panas hendak menitikan air mata.

Memang ada yang terasa berbeda dalam hati kita setiap kali lebaran datang dan Ramadhan hendak meninggalkan kita. Saya ga pingin sok relegius disini, tapi saya memang terenyuh dan itu semua membuat saya harus menyelami kembali perjalanan hidup saya selama setahun ini. Ya setahun ini ! Bila lebaran adalah titik dimana kita semua (insya 4jjI ) kembali fitri maka lebaran adalah juga titik start untuk perjalanan kita selanjutnya. Perjalanan yang akan menentukan apakah kita benar-benar memenangkan peperangan atau hanya mengungguli pertempuran Ramadhan.


read more "memaafkan diri sendiri"

Senyum berbuah ember (*cerpen)


Tak ada yang pernah tahu bagaimana cinta mereplikasi diri dalam hati manusia, dia juga tidak. Yang dapat dibayangkannya hanyalah sebab yang mengantarkan perasaan pada alamat yang bernama hati. Yang dapat diuraikannya hanyalah cerita, kisah tentang bagaimana cinta menemukan hati, ataukah justru sebaliknya hati yang menemukan cinta? Akh... itupun pertanyaan yang terlanjur membingungkan.

Bagi Kinar hidup tak pernah lagi sesederhana sediakala. Waktu dan peristiwa telah mengajarinya untuk tidak lagi menjadi impulsif, menjadi tergesa-gesa dan ceroboh dalam mengambil keputusan. Dia telah belajar, bersabar. Kinar berjanji, tak akan pernah lagi dia mengambil keputusan dalam sedetik.

Bukti tabungan kesabaran itu adalah hari ini Saat ini adalah total dari semua keberanian yang dihimpunnya Hari ini adalah momen Kinar untuk menjadi egois. Ini saatnya tiba pada kesimpulan yang sangat individualis.

read more "Senyum berbuah ember (*cerpen)"

Total Anarchy Society. Could we take care ourselves ?


A Society that manages to take care itself para punkers menyebutnya sebagai total anarchy society. Mereka menggambarkannya sebagai keadaan dimana keteraturan sosial tercapai melalui moral obidience dan kesepahaman yang tinggi atas posisi hak dan kewajiban antar tiap manusia. Mereka memimpikannya sebagai nature state of humanity, sebagai asali dari kehidupan. Sementara kita, diluar pikiran mereka memahaminya sebagai model yang hanya mungkin eksis dalam surga.

Lalu atas nama kesederhanaan berpikir, kita menyimpulkan mereka sebagai pemimpi, sebagai pengkhayal yang bahkan lebih utopis dari marx dan engels yang mendambakan masyarakat tanpa kelas. Kita dengan sederhana, lupa serta tanpa sengaja mengindahkan jawaban dari pertanyaan mendasar apakah kita bisa mengurus diri kita sendiri tanpa aturan dan pemerintah. 
“ could we take care ourselves? as an individual, as a society ?

read more "Total Anarchy Society. Could we take care ourselves ?"

Angka Palungku Par Musik (*Band) di Ambon


 Angka palungku par musik (*band) di Ambon, begitu kata-kata ian, vokalis expo yang tampil pada gelaran Sprite d plong di lapangan merdeka ambon. Lebih dari separuh crowd yang ada didepan panggung lantas mengepalkan tangan kanannya ke udara menerima ajakan itu. Momen itu menurut saya penting dalam pergerakan musik di Ambon.

Ian tidak sedang mengkampanyekan perlawanan terhadap penguasa, juga tidak sedang berusaha menyuarakan pesan separatisme. Ian, sang vokalis panggung terbaik dari band yang telah dianggap sebagai local hero itu, dengan kepalan tangan yang mengacung ke udara sebenarnya sedang membagi harapannya dengan puluhan ribu pengunjung acara sprite d plong di lapangan merdeka. Membagi harapannya untuk kebangkitan musik (*band) di kota ini.


Kalimat diatas mungkin terkesan berlebihan untuk menggambarkan aksi panggung sebuah band lokal yang mungkin tidak terlalu banyak dikenal diluar komunitas musik kota ini. Tapi percayalah bagi banyak anak band di kota Ambon, aksi Ian semalam adalah sebuah tindakan penting. Penting, karena untuk pertama kalinya seorang musisi lokal muda kota ini menyampaikan secara langsung keresahannya tentang kemajuan scene musik band Ambon sembari menghadirkan persoalan menahun yang bernama apresiasi kepada penonton.


read more "Angka Palungku Par Musik (*Band) di Ambon"

Soe Hok Gie (*catatan seorang penonton demonstrasi)

 


Sekarang aku berpikir, sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya tapi dapatkah seseorang berkorban tidak untuk apa-apa. Aku sekarang sedang terlibat dalam pemikiran ini sangat pesimis dan hope for nothing -
(Soe Hok Gie)

Berkorban tidak untuk apa-apa. Frase ini benar-benar sempat membingungkan buat saya. Begitu membingungkannya hinga hampir saja saya menabrak kios jajanan yang ada dipinggir jalan akibat memikirkannya.


Berkorban sebagai perbuatan menurut saya, adalah hasil interaksi pikiran, keinginan dengan syaraf-syaraf otak yang kemudian diteruskan pada syaraf motorik secara riil dalam konteks fisik. Namun lebih dari itu berkorban (selanjutnya disebut perbuatan atau berbuat sesuatu) tidak hanya sekedar sebuah konsep fisik. Karena terkadang yang namanya perbuatan juga adalah sebuah konsep yang abstrak. Bila yang namanya ide pun kita kalkulasi sebagai perbuatan. Bagi saya, entah apakah ini salah atau tidak. Yang namanya perbuatan adalah determinasi dari sikap seseorang, sedangkan sikap itu sendiri adalah perbuatan akal yang ada karena proses berpikir. Disinilah segala sesuatu berasal dan kemudian eksis. Sebagaimana apa yang dinyatakan oleh Descartes “ Corgito Ergo Sum “.


read more "Soe Hok Gie (*catatan seorang penonton demonstrasi)"

Why Campaigning #ambonbergerak ?


Mengapa Ambon perlu bergerak ? Pertanyaan sederhana tapi penting itu bukannya baru dipikirin. Sejak pertama kali kami sepakat untuk menyebarkan semangat yang kami sebut AMBON | BERGERAK lewat social media macam facebook dan webpage, sesungguhnya alasan tersebut sudah ada dalam pikiran. (walaupun anehnya secara lisan ga pernah kami diskusikan)

Kami berpikir, teman-teman orang muda di Ambon pasti juga merasakan dorongan dan keinginan yang sama untuk berdiri dan bergerak, bertindak atas kondisi yang seakan-akan menciptakan atmosfer stagnan dalam kehidupan orang muda di Ambon.


Kami secara ga sengaja lupa bahwa, diluar lingkaran pergaulan kami (yang kami tahu menyimpan keinginan yang serupa), banyak orang yang pada akhirnya ikut serta dalam social campaign ini, (walaupun hanya dengan menyumbang jempol dlm status dan comment mereka di site) yang pada akhirnya bertanya, mengapa Ambon perlu bergerak, mengapa gerakan ini ada, siapa yang berada dibaliknya, dan apakah ini ga ada hubungannya sama kekuatan-kekuatan politik tertentu (#maklum aja, bentar lagi ambon masuk musim pilkada :D) Pada akhirnya ternyata terbukti kalo semacam memorandum tentang apa itu AMBON | BERGERAK saja memang ga’ cukup.


read more "Why Campaigning #ambonbergerak ?"

Politik Pemberitaan (Skandal Century) Wallahu Alam !


“ Politik media dan netralitas penyelenggaraan pilkada “. Itu kalimat judul yang pernah saya pikirkan sebagai sebuah karya tulis beberapa tahun lalu. Saat itu saya masih seorang mahasiswa dan kebetulan berusaha dengan sangat berat untuk menyelesaikan membaca ulang buku jakob oetama tentang politik pemberitaan media di perpustakaan. Buku itu sendiri nyatanya dengan gampang membuat saya terkantuk-kantuk.

Tapi bukan itu soalnya yang hendak dicurhatkan disini. sedikit memori itu sore ini mendekat lagi ke kepala saya, sesaat setelah memperhatikan pemberitaan media mengenai bank century dan segala tetek bengek aktivitas politik yang terjadi sebagai latar belakang dan atau bahkan sajian utama di panggung media saat ini.

read more "Politik Pemberitaan (Skandal Century) Wallahu Alam !"

Apa pentingnya merayakan tahun baru ?


Teman, pertanyaan itu menggelayut di benak beberapa saat tadi, saat keriuhan memerangkapkan benak dalam histeria, saat kegirangan menempatkan lupa bahwa sebenarnya jauh diatas semua ritual selesainya bumi mengelilingi matahari ada hal yang lebih besar dari sekedar menunggu selesainya pukul 23.59 menuju pukul 00.00 detik pertama.

Apa yang sebenarnya berbeda dari beralihnya waktu itu, sebenarnya seharusnya tak ada yang istimewa, toh hitungan itupun sebenarnya mungkin tidak teramat tepat, sejak bulan-bulan itu pertama kali diciptakan dan mendapatkan namanya begitu banyak modifikasi atas nama kekuasaan pada apa yang saat ini kita sebut sebagai bulan-bulan itu.


Saat julius caesar berkuasa, ditambahkannya satu hari pada bulan yang disebutkan berdasarkan namanya hingga bulan juli berjumlah 31, begitu juga saat octavianus agustus anak angkatnya naik tahta, sang kaisar menambahkan satu hari di bulan yang kemudian juga disebut berdasarkan namanya itu. Maka apakah yang disebut satu tahun, bila hitungannya terus menerus direnovasi, diperbaiki, pendeknya selalu disempurnakan. T
ak ada yang menyebutnya pasti.    

read more "Apa pentingnya merayakan tahun baru ?"

Jika Kau Mengerti | *cerpen


Dia selalu bercerita padaku kalau mereka berdua selalu berjanji untuk bilang “ I Love You “ setiap kali mereka berpisah, setiap hari. Dia juga bilang, kalau diakhir semua pertemuan, dia selalu akan melihat kebelakang setelah berlalu beberapa langkah.

Katanya dia ingin memastikan tiap hati mereka selalu saling merindu. Dia selalu ingin memastikan bahwa mereka berdua tak berpaut atas jarak dimana mata mereka tak saling memandang. Katanya, dia ingin memastikan kalau mereka selalu merasa jatuh cinta setiap hari.


Akh….Aku selalu membayangkan setiap peristiwa-peristiwa itu dengan sangat indah. Mengkhayalkannya sebagai sesuatu yang membelai di dalam perasaan. Bahkan aku telah  menempatkannya sebagai momen melankolis di dalam hatiku sendiri. Entah bagaimana aku selalu menempatkan semua remah kenangannya sebagai cermin bagi diriku sendiri, sampai-sampai pada titik tertentu aku seringkali merasa emosi itu sudah menjadi empati yang terlampau berlebihan. Bahkan omong kosong dan terus terang konyol untuk senantiasa dilibatkan dalam pikiran, berulang-ulang. 


Tapi bagaimana lagi, hidupku sudah berpaut dalam cerita-cerita itu melalui cara yang tak bisa kuurai sendiri. Aku sudah berendam kusut dalam kolam dingin perasaannya terlampau lama hingga tak ingat jelas lagi kapan awalnya dan akan bagaimanakah aku tenggelam. Aku terlanjur menangkap diriku dalam bayang-bayang kenangannya.

read more "Jika Kau Mengerti | *cerpen"