
Dua cangkir kopi, setengah botol air mineral dan jeruk setengah masam, tergeletak di atas meja. Di sampingnya, dua tubuh diam membatu. Di depan ada Danau Batur, di langit, burung berenang seakan tanpa beban, sedangkan di kedalaman, ikan melayang rendah di antara awan putih yang memantul di cermin danau. Langit sudah hampir sore, dan tempias biru-hijau yang payau, teduh mewarnai langit. Siang segera beranjak, bersalin rupa.
“Apa yang ingin kau temukan dalam hidup?
” Dira mengucapkan kalimat itu hampir bergumam.
Aku diam saja, pura-pura tak mendengar...
Terus terang aku bingung. Aku memang tak pernah benar-benar paham apakah Dira sedang bertanya atau memberikan pernyataan. Keduanya terlalu tipis sebagai bunyi. Juga intonasi ketika baris kata itu meloncat dari bibirnya tak pernah benar aku mengerti.
Mulutnya hanya sedikit terbuka dan wajahnya berpaling menjauhi wajahku. Bibirnya seperti tak bergidik, seakan-akan bukan lidahnya yang bicara.
Aku belum pernah ikut kursus membaca gerak bibir, pun, pada hampir sore begini aku tak ingin banyak bicara. Beberapa tahun ini, aku sudah melatih diriku sendiri untuk tak jadi sentimentil, teruya di kala senja luruh.
Aku diam saja, pura-pura tak mendengar...
Terus terang aku bingung. Aku memang tak pernah benar-benar paham apakah Dira sedang bertanya atau memberikan pernyataan. Keduanya terlalu tipis sebagai bunyi. Juga intonasi ketika baris kata itu meloncat dari bibirnya tak pernah benar aku mengerti.
Mulutnya hanya sedikit terbuka dan wajahnya berpaling menjauhi wajahku. Bibirnya seperti tak bergidik, seakan-akan bukan lidahnya yang bicara.
Aku belum pernah ikut kursus membaca gerak bibir, pun, pada hampir sore begini aku tak ingin banyak bicara. Beberapa tahun ini, aku sudah melatih diriku sendiri untuk tak jadi sentimentil, teruya di kala senja luruh.















