Senyum berbuah ember (*cerpen)


Tak ada yang pernah tahu bagaimana cinta mereplikasi diri dalam hati manusia, dia juga tidak. Yang dapat dibayangkannya hanyalah sebab yang mengantarkan perasaan pada alamat yang bernama hati. Yang dapat diuraikannya hanyalah cerita, kisah tentang bagaimana cinta menemukan hati, ataukah justru sebaliknya hati yang menemukan cinta? Akh... itupun pertanyaan yang terlanjur membingungkan.

Bagi Kinar hidup tak pernah lagi sesederhana sediakala. Waktu dan peristiwa telah mengajarinya untuk tidak lagi menjadi impulsif, menjadi tergesa-gesa dan ceroboh dalam mengambil keputusan. Dia telah belajar, bersabar. Kinar berjanji, tak akan pernah lagi dia mengambil keputusan dalam sedetik.

Bukti tabungan kesabaran itu adalah hari ini Saat ini adalah total dari semua keberanian yang dihimpunnya Hari ini adalah momen Kinar untuk menjadi egois. Ini saatnya tiba pada kesimpulan yang sangat individualis.


Kini, pelan dan laun, semua yang pernah berlalu mengalir di hadapan benaknya. Menampilkan semua jalan yang membawa dirinya ke tepian waktu ini. Kinar belum melupakan semua itu. 

Kinar ingat kenapa dia memutuskan menikah di usia yang sangat muda. Kerepotan-kerepotan yang harus dialaminya karena menjalani pernikahan merentang jarak selama satu setengah tahun. Dia tak lupa semua, tiap hal sepele yang menjadi perdebatan, perbedaan-perbedaan kecil yang kian lama-makin terasa prinsip.

Kinar bahkan belum dapat mengenyahkan kenangan kesunyian yang panjang dan menjemukan itu. Tiap kenangan dalam rumah dinas di sudut kota kecil itu berulang dengan jelas di kepalanya. Pertanyaan bodoh itu kembali menggantung di atas alisnya, turun pelan ke bibir. Kenapa dia setuju untuk menunda kehamilan, Kenapa kami terlampau serius menjadi ajudan.

Kinar tak habis pikir bagaimana semua hal yang dulu benar, pantas telah menjadi bodoh dan salah. Dia tak bisa dengan mudah mengerti bagaimana sesuatu bisa tergerus dan meninggalkan hati menjadi kosong. 

Tapi picu ledaknya bukan itu. Lebih dari perasaan kosong, yang paling dia benci adalah topeng yang harus dia pakai, senyum yang harus dia pasang dan lalu dia hapus seperti make up. Kinar membenci dirinya yang berpura-pura. Dia benci menjadi sabun yang mencuci, tergerus, lalu hilang. Dia benci tak ingat lagi kapan dia benar-benar menjadi dirinya sendiri. 

Pertanyaan hakim itu mendorong dia masuk ke jurang. 

“ bagaimana kalian bertemu “.

Kinar masih tercekat dalam kosong. 

* * *

Senyum-senyum itu berbuah ember Ndra!

Rizki kembali melepas kalimat itu. Entah sudah berapa kali aku mendengarnya. Dia selalu melafalkannya, wajib, seperti melafalkan selamat pagi dan selamat siang pada senior yang berpapasan.

Sejak pertama aku melangkah menuruni tangga wisma itu, dia sudah sudah menunggu di tepian turunannya untuk mengulang kata itu, sudah sepuluh kali. Sepuluh kali yang kian intimidatif. Sepuluh kali yang juga kian pelan saat langkahku menapak kian kuat menuruni tangga. Pada akhirnya seruan rizki hanya hanya desau pelan yang mendenging tipis diantara kepala dan kupingku. Bunyi yang terlalu tipis untuk terindahkan lagi.

Rizki, aku dan sebagian besar putra dua wisma ini memang seakan punya semacam dendam pribadi dengan putri-putri dari wisma sebelah itu. Sebabnya bagiku sepele, bagi yang lain mungkin tidak. 

Akar pangkalnya adalah senyum dan ember air. Perempuan-perempuan dari seberang jalan itu hanya tersenyum ketika ada maunya. Senyum mereka hanya terbit  bersama ember. Sapaan kami hanya dibalas ketika ada ember, lain waktu tidak. Tidak di kelas, tidak di kantin, tidak di perpustakaan.

Soal senyum ini lambat laun tumbuhkah menjadi kesal. Kesal yang menumpuk  menjadi dongkol. Dongkol yang lambat tapi pasti berubah menjadi boikot yang tidak diumumkan. 

Aku bukannya tak sakit hati, tapi bagaimana lagi, hidup sudah mengatur lintasan perjalanan tiap orang, dan hari ini sudah takdirku untuk menuruni tangga.

Dengan perlahan aku mengarah pada keran air. Menguatkan tiap niat yang sejak mulanya sudah terbangun dalam pikiran. Aku memang hanya perlu melangkah beberapa meter dari keran menuju tangga itu untuk menuntaskan episode yang tak perlu dipanjang-panjangkan ini. 

Akh, apalah juga gunanya menunda sebuah kegelisahan.

Aku berhenti sebentar hendak menyembunyikan kegugupan yang mulai mengembun. Menarik napas dalam yang semestinya tak terperhatikan. Tak jauh dari tempatku berhenti, beberapa putra duduk sembari berbisik, mengurai alasan yang jua tak ingin kudengarkan. Aku ingin mengindahkan semua bisikan dan protes itu dulu saat ini. Bila mungkin, aku ingin buta sebentar pada semua mata dari empat wisma yang sedang menelanjangi punggungku.

Semua mata itu sedang menguras kolam perbuatanku, sedang berusaha menjangkau dasar niat dari tindakan yang akan kulakukan. Mencabut setiap akar yang menjalar dari perbuatan yang kutumbuhkan sebagai pohon bernama tulus. 

Aku sadar tak ada guna membalut diri dengan kata sopan itu. Aku pun tahu bukan tulus yang menarikku seperti arus samudra, seperti pasang naik yang patuh pada rotasi bulani. Senyum itu saja. 

Bibir yang semringah itu memang terlampau manis untuk kuindahkan. Binar mata itu terlalu terang untuk tak ku tatap. Kawan, aku cuma hamba yang mengagumi indah ciptaan Tuhan. Aku hanyalah putra yang berkenalan dengan perjumpaan, dengan sebuah perasaan tanpa definisi.

Lambat laun dengingan itu menyusut kian pelan, dan aku kini hanya melihat dirinya yang sedang berdiri sambil tersenyum, menyembunyikan ember biru bercetak nama seorang teman di belakang punggung kakinya. 

Aku melangkah mantap menuju tangga itu. Menatap matanya yang binar, mengulas senyumnya yang berkata merdu :

“ terima kasih saudara asuh “

Demi tuhan akulah sang buta dan sang tuli. 
Akulah sosok tak peduli. 

* * *

Perlahan tapi pasti  nebula dalam pikirannya tersingkap dan Andra melihat dirinya sendiri melompat tersenyum diantara genang kenangan. 

Cermin-cermin cair itu membening memproyeksikan semua kenangan yang perlahan dibasuhkan kembali dalam pikirannya. Menyelami momen itu membuatnya merasakan setiap molekul yang membuatnya sadar akan alasan

Pelan-pelan rahangnya mengkaku, dia ingin membekukan saat ini agar dia tak perlu melangkah di detik berikutnya.  matanya merasakan panas, air mata terbit.

Andra sadar dia belum pernah merasakan penyesalan seperti ini selama bertahun-tahun. Tidak sebelum dia merunut kembali momen itu dalam benaknya. Tidak sebelum dia berusaha menjawab pertanyaan sepele sang hakim kepadanya.

Tanpa berkata Andra melangkah berlari cepat keluar ruangan
* * *

Kinar berusaha menenangkan dirinya sendiri. Berusaha membalik lipatan demi lipatan kenangan itu memang telah membuat tangannya menjadi kaku.

Mau tak mau mereka memang harus kembali meniti jejaring itu, melangkah lambat diantara lintasan perasaan yang melaju tak pernah berhenti, duduk dalam kubikal memori yang berpaut satu sama lain. Terhubungkan oleh sebuah ruang hampa yang tak mampu bicara namun menyimpan semua perasaan manusia. 

Hakim sudah duduk kembali ditempatnya sejak lima menit yang lalu. Kinar menatap perlahan kursi kosong di seberang, melihat Andra yang tak lagi mengikuti pertemuan rekonsiliasi sebelum sidang cerai itu membuat dia kembali merasa bodoh, kembali merasa putus asa. Ketertegunan itu pecah saat sang hakim mengeluarkan kembali tanya itu.

Jadi bagaimana ibu Kinar bertemu dengan bapak Andra !

Tangannya kembali kaku, bahkan semakin kaku lebih dari sebelumnya, ada yang tersekat dikerongkongannya. Dia takut perasaannya dianggap terlalu remeh. Kinar belum juga mampu bicara....

“ Aku tahu bagaimana kami bertemu pak “
aku tahu bagaimana semua ini bermula....

Perlahan dan pelan Andra keluar dari bayang siluet di hadapan pintu itu. Sosoknya terlihat letih, berkeringat dan lelah. Hanya tersisa sedikit harapan yang bersembunyi di sudut matanya yang menitis pelan... perlahan. Dengan sedikit terbata suara parau itu membuncah titis demi titis dari dalam perasaannya.

Saya mencintainya karena benda sederhana ini pak. Kami berjumpa melalui ember ini.

Perlahan Andra meraih ember biru dibelakang badannya, menghadapkannya kedepan seakan mempersembahkan seluruh hatinya. Tangannya tak lagi segemetar di awal. namun tetap terlihat mencoba menguatkan dirinya sendiri.

“ Kinar.... saya tahu hati saya ga besar, bahkan mungkin lebih kecil dari ember ini. Tapi saya masih mau menampung galauan emosi apapun lagi. Saya mau menerima setiap tumpahan perasaan kembali. Apapun itu.

Sayang....,
Kinar....., saya ingin mempertahankan pernikahan ini.
ijinkan saya untuk minta maaf. Untuk semuanya. “

hanya ada denting hampa yang mendetik pada tiap perhentian kata-kata yang menjadi kosong itu. Kesunyian itu menyiksanya lebih dalam, saat menatap kinar yang hanya terdiam. Tertunduk. Semakin dalam setiap kata demi kata. Andra tak tahu lagi harus berkata apa. Dia hanya mencoba untuk tak juga tenggelam.

“ Saya tahu saya bodoh nar, lelet, acuh dan sama sekali tidak sensitif. Tapi saya juga tahu say, kalau saya ga mampu keluar dari ruangan ini tanpa bilang kalau saya masih sayang sama kamu. Tanpa bilang kalau ......... “ saya cuma ingin kembali menjadi tempat kamu bersandar Kinar. Bahkan kalau itu hanya sesederhana menjadi orang yang mengambilkanmu air satu ember. 

Saya hanya ingin kembali menjadi saya yang mencintai kamu, saya hanya ingin kembali menjadi orang yang kamu cintai.

"saya masih ingin menjadi lebih baik buat kamu “

Selepas kata demi kata itu sepenggal ruang itu seakan berubah menjadi sekeping hampa yang mengapung di udara tak berdasar. Hampa itu sediam angkasa. Emosi berenang dalam pekat itu, bercahaya dalam kegelapan yang sempurna

“ bagaimana dengan anda bu Kinar... ada yang hendak anda sampaikan ?

Kinar hanya bisa menatap kosong dihadapan sang hakim, dia tak ingin lagi menunduk, tidak untuk saat ini. Tanpa diinginkannya ada sesak yang kembali bersemai melumat ego yang yang dibangunnya bata demi bata. Tidak seperti kemarin, kini kinar melepaskan emosi itu untuk mengembara dalam hatinya. Kali ini dia hanya ingin membebaskan tiap yang dia rasakan tanpa menahan apapun. Kinar hanya ingin berlaku adil pada perasaannya seperti ketika dia membiarkan ego dan penyesalan itu menguasainya.

Perlahan namun pasti bukit di pipinya mulai melembayung tersaput lelehan hatinya yang menitis. Diangkatnya dagunya dengan perlahan. Kinar menarik napas yang terlalu panjang untuk dihela dengan sekali helaan napas saja. Dia menggenggam tepian bibir meja itu dengan segenap kekuatannya.

“ Ndra... saya tahu saya ga cukup sabar buat kamu. Saya terlalu emosional. Bahkan cenderung seringkali bertindak terlalu bodoh dalam banyak hal.

“ tapi.... saya juga tahu..
kalau dalam keinginan yang paling tersembunyi, saya masih ingin memiliki kamu. 

Menerima semua kebodohan dan kejengkelan yang pasti terjadi. “ Saya juga tahu kalo cuma kamu yang mau menampung emosi perempuan se impulsif saya. 

Say.... ( bibir kinar bergetar pada kata pendek itu. Dia bahkan lupa kapan terakhir dia mengucapkan kata remeh itu pada andra)

“ saya tahu saya masih sayang sama kamu “

Tangannya tak lagi sekaku itu. 
Guratan kukunya pada tepian meja itu kini menjadi kian tipis. Kian lembut. Perlahan kinar merogoh sesuatu dibawah mejanya, mengangkatnya dengan perlahan keatas meja. Ember pink itu terlihat kontras diatas meja kayu tebal yang berwarna coklat.

Tapi..... saya ga tahu musti ngapain lagi untuk kembali ndra. Saya takut ndra.

Takut kalau perasaan kita memang hanya tersisa sebanyak yang dapat ditampung seember ini. Saya takut saya ga bisa melepaskan semua penyesalan ini hanya dengan sesederhana yang kamu bilang. 

Bagaimanapun saya ga ingin kembali jadi perempuan bodoh yang terlalu terbawa perasaan.

Andra tertunduk dalam diakhir kalimat itu. Dia tahu semua hal ini tidak akan menjadi sesederhana yang dipikirkannya, namun mendengar kata-kata itu sendiri dari bibir Kinar siang ini membuatnya hendak menghantam seluruh dinding itu dengan segenap perasaan yang menguasai hatinya. 

Tapi Andra hanya mampu menatap pelan mata Kinar yang melintas sekedip. Dia tahu bagaimanapun dia sudah berusaha semampu yang dia bisa. Pada akhirnya dia memang harus bersiap untuk melepaskan semuanya. Dia harus belajar melangkah sendirian sebelum bisa menuntun orang lain.

“ saya mengerti say... saya tahu itu. Perasaan saya memang mungkin hanya sebesar ember ini. Tapi saya tahu itu, saya tahu saya bisa menampung apapun. Saya tahu saya bisa mengisi kembali ember hati ini setiap kali ember ini kosong. Saya tahu saya akan tetap jatuh cinta sama kamu. 

Tapi itu terserah kamu Kinar... saya ga pingin memaksakan lagi isi kepala saya sama kamu.

Andra melangkah mundur perlahan, dia berbalik. Lintasan ruang yang terbilang dihadapanya terasa terlalu jauh. Waktu melambat dan dia seakan berjalan digenangan pasir hisap. Pelan, sebuah genggaman halus menghentikan langkahnya. Andra merasakan pelukan itu di punggungnya.

Dia membalik badannya perlahan. Menatap binar hangat yang mengembang dari wajah perempuan tercinta yang kembali pulang ke pelukannya. Kinar tak berkata, juga andra. Hanya membagi tiap kekuatan yang ada. 

Ember itu sudah menyatakan segala yang mampu mereka ungkapkan.

Dalam pelukan erat itu. Andra teringat kembali pada pendek kata Rizki saat dia pertama kali memutuskan menuruni tangga barak itu. 

Dia mengucap pelan dalam hati, 

Ki ember-ember itu memang membawa senyum!


-------------------------------------------------


Selesai ditulis kembali di
Studio 99 dini hari 28 – 08 – 09
M. Burhanudin B / @tero2_boshu
( salam kangen tak terkira untuk semua putra barak jabar, dki dan putri barak ntb )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar