Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senyum berbuah ember (*cerpen)


Tak ada yang pernah tahu bagaimana cinta mereplikasi diri dalam hati manusia, dia juga tidak. Yang dapat dibayangkannya hanyalah sebab yang mengantarkan perasaan pada alamat yang bernama hati. Yang dapat diuraikannya hanyalah cerita, kisah tentang bagaimana cinta menemukan hati, ataukah justru sebaliknya hati yang menemukan cinta? Akh... itupun pertanyaan yang terlanjur membingungkan.

Bagi Kinar hidup tak pernah lagi sesederhana sediakala. Waktu dan peristiwa telah mengajarinya untuk tidak lagi menjadi impulsif, menjadi tergesa-gesa dan ceroboh dalam mengambil keputusan. Dia telah belajar, bersabar. Kinar berjanji, tak akan pernah lagi dia mengambil keputusan dalam sedetik.

Bukti tabungan kesabaran itu adalah hari ini Saat ini adalah total dari semua keberanian yang dihimpunnya Hari ini adalah momen Kinar untuk menjadi egois. Ini saatnya tiba pada kesimpulan yang sangat individualis.

read more "Senyum berbuah ember (*cerpen)"

in memoriam of senioritas (*cerpen)



“ Senioritas semakin jauh dari ganknya. Aktivitas kampus yang lumayan ekstrim dan amat ditakuti oleh yuniornya itu tidak pernah lagi menampakkan diri akhir-akhir ini. Perlahan namun pasti pergi dari peredaran. Ujung-ujungnya, gank-nya yang dulu sampai membuat stres ( tapi tetap punya kharisma ) mulai kehilangan power “.

Brengsek, anak baru yang katanya anak pejabat itu kurang ajar bener sama gue. Masa dia nolak waktu gue suruh ngambil air di kantin” ada salah satu kroco senioritas yang konon jago mukul dengan trik tendangan bayangan tanpa disadari yunior. Hanya bisa complain nggak mampu bertindak lebih.

“Ah itu sih masih bisa ditolerir. Kali aja kakinya keseleo atau mentalnya lagi nyakit. Lha gue ? bener-bener dilecehin yunior waktu lari siang kemaren. Malah ada yang suit-suitin tahu nggak lu? Dulu, mana berani kita tetap tinggal di tempat kalau ada senior yang dihukum. Spontan kabur kayak lihat hantu” versi lain yang cukup memerahkan telinga.

read more "in memoriam of senioritas (*cerpen)"

Jika Kau Mengerti | *cerpen


Dia selalu bercerita padaku kalau mereka berdua selalu berjanji untuk bilang “ I Love You “ setiap kali mereka berpisah, setiap hari. Dia juga bilang, kalau diakhir semua pertemuan, dia selalu akan melihat kebelakang setelah berlalu beberapa langkah.

Katanya dia ingin memastikan tiap hati mereka selalu saling merindu. Dia selalu ingin memastikan bahwa mereka berdua tak berpaut atas jarak dimana mata mereka tak saling memandang. Katanya, dia ingin memastikan kalau mereka selalu merasa jatuh cinta setiap hari.


Akh….Aku selalu membayangkan setiap peristiwa-peristiwa itu dengan sangat indah. Mengkhayalkannya sebagai sesuatu yang membelai di dalam perasaan. Bahkan aku telah  menempatkannya sebagai momen melankolis di dalam hatiku sendiri. Entah bagaimana aku selalu menempatkan semua remah kenangannya sebagai cermin bagi diriku sendiri, sampai-sampai pada titik tertentu aku seringkali merasa emosi itu sudah menjadi empati yang terlampau berlebihan. Bahkan omong kosong dan terus terang konyol untuk senantiasa dilibatkan dalam pikiran, berulang-ulang. 


Tapi bagaimana lagi, hidupku sudah berpaut dalam cerita-cerita itu melalui cara yang tak bisa kuurai sendiri. Aku sudah berendam kusut dalam kolam dingin perasaannya terlampau lama hingga tak ingat jelas lagi kapan awalnya dan akan bagaimanakah aku tenggelam. Aku terlanjur menangkap diriku dalam bayang-bayang kenangannya.

read more "Jika Kau Mengerti | *cerpen"