Tampilkan postingan dengan label entahlah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entahlah. Tampilkan semua postingan

Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !

source: globalnews.id


Tahun 2007, Chen dan Ravalion, keduanya akademisi Bank dunia, melaporkan bahwa angka kemiskinan absolut global telah turun secara drastis, terutama di Asia. Dunia, menurut keduanya akan segera menyaksikan berkurangnya separuh angka kemiskinan global. Nubuat itu 'terbukti'. Tahun 2010, salah satu dari target pertama Millennium Development Goals tercapai (World Bank 2013).

Sayangnya, kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu tak benar-benar disambut penuh gegap gempita. Sebagian cendekiawan meragukan klaim dan laporan Bank Dunia itu. Sanjay Reddy dan Camelia Minou (2007) misalnya menyebut kesimpulan turunnya angka kemiskinan global itu sebagai ‘tak konklusif’. Pangkal soalnya, data angka kemiskinan di India dan China, penyumbang terbesar turunnya angka kemiskinan global, tak dianggap reliable. Cendekiawan lain tak kalah keras bersuara. Sebagian secara khusus menyoroti  standar $1 per hari yang mereka anggap tak mewakili konsumsi minimal warga dunia, bahkan pada negara-negara paling miskin sekalipun. Kemiskinan, menurut cendekiawan-cendekiawan ini, boleh jadi tak sama sekali berkurang bila standar pengeluaran $2 per hari digunakan sebagai standard perhitungan.
read more "Ambon, kemiskinan, dan hal-hal yang belum selesai !"

Bukan Orang Baik. Saya !



Kita berusaha menjadi orang baik.. Menjadi orang yang  tampak sempurna di hadapan semua orang. Dihadapan diri dan mata hati kita sendiri kita tahu kita bukan orang yang benar. Tidaklah orang yang lurus. Dihadapan mata hati kita sendiri. Saya dengan tegas bisa berkata. “ Saya bukan orang yang baik “.

Ini sebuah ungkapan yang terlalu sentimentil barangkali.. tapi inilah memang karat persoalan yang seolah sudah membatu dan menghalangi kemerdekaan berpikir dan berencana dalam hati. Inilah sempalan itu, noda yang menggerus nilai dan terkadang membuat hati terperangkap kesendirian saat diri semestinya merayakan kehilangan beban dan menerima masalah. Pendeknya, merayakan keniscayaan hidup. 
read more "Bukan Orang Baik. Saya !"

memposting sesuatu bermakna " Rindu " | a note to my self


moment of missing | Photo Taken By : @PesiwairssaNini
Saya sudah memikirkan judul ini bahkan sebelum memulai kata pertama, bahkan inilah kalimat pertama itu. Kalimat yang terngiang di kepala setiap kali melihat kertas dan blog teman-teman yang lain mempostingkan sebuah tulisan. Tulisan baru, tulisan segar yang berasal dari pikiran yang masih terus bicara dengan hati, dengan nurani yang berteriak, berbisik lemah dan atau sekedar merayu ketika menyaksikan realitas hidup. Saya dengan demikian memang sedikit buta atau rabun sehingga tak lagi bicara dan lalu memiliki semangat untuk menuliskan sebaris kalimat yang mungkin dapat beranak pinak menjadi sebuah tulisan. Sebuah bacaan yang berarti, setidaknya bagi diri sendiri.

Saya selalu berpendapat seseorang takkan bisa “menulis” tanpa benar-benar mengalami pengalaman nurani yang mendorongnya menulis. Seorang penulis yang baik “ menurut saya “  adalah pejalan abjad yang disusunnya, sama kiranya seperti seorang sutradara yang mengartikan script kedalam sebuah gambar yang lalu bicara kepada banyak orang. Karena itu, menjadi bagian dari cerita, bagi saya adalah keharusan.. entah itu dalam argumentasi atau opini. Bila tidak tulisan “mungkin” hanya akan sekedar menjadi perayaan literasi tanpa makna. Sebuah pesan yang tersampaikan tidak dengan gairah. Sebuah berita yang walaupun perlu akan membuat kita berpaling ketika sebuah dongeng diceritakan atau ketika sebuah berita di dongengkan. Sebuah kebosanan tak perlu yang berhimpit rapat diantara kertas digital yang bernama layar komputer atau kertas percetakan.

read more "memposting sesuatu bermakna " Rindu " | a note to my self"

Kompasiana dan Keran air



Entah kenapa judul ini yang berakar dalam kepala saya ketika diharuskan untuk menulis. Waktu sepuluh menit untuk menuliskan sesuatu adalah waktu yang tidak terlalu pendek, juga bukan sangat panjang, namun saya dapati sangat memaksa. Terlampau menjajah pikiran.

Pikiran dan tulisan tentu saja bukan keran air yang dapat mengalir begitu saja ketika keran diputar. Setidak-tidaknya sering seperti itu dalam kepala saya. Tulisan... menurut beberapa teman (btw ini teman fiktif yang saya ciptakan sendiri) adalah sebuah pergulatan pikiran, pergulatan ide.) sebuah proses melelahkan untuk menghisap empat sampai lima batang rokok dan dua gelas kopi pahit untuk menghasilkan beberapa paragraf.

Bahkan seorang penanya beberapa saat yang lalu sebeleum tulisan ini dibikin mempertahankan kesulitan menulisnya itu sebagai sebuah akut yang sama sekali “ menurut dia” tak berhubungan dengan kemampuan merunutkan cerita, gambar, konsep ide atau runtut. Nah... maka kenapakah kita harus menulis dalam waktu sepuluh menit dan tulisan macam apakah yang nanti saya hasilkan dari sepuluh menit proses berpikir yang saya cerewetkan ini.

read more "Kompasiana dan Keran air"