Yang (belum) Selesai






Dua cangkir kopi, setengah botol air mineral dan jeruk setengah masam, tergeletak di atas meja. Di sampingnya, dua tubuh diam membatu. Di depan ada Danau Batur, di langit, burung berenang seakan tanpa beban, sedangkan di kedalaman, ikan melayang rendah di antara awan putih yang memantul di cermin danau. Langit sudah hampir sore, dan tempias biru-hijau yang payau, teduh mewarnai langit. Siang segera beranjak, bersalin rupa.

“Apa yang ingin kau temukan dalam hidup?

” Dira mengucapkan kalimat itu hampir bergumam. 

Aku diam saja, pura-pura tak mendengar...

Terus terang aku bingung. Aku memang tak pernah benar-benar paham apakah Dira sedang bertanya atau memberikan pernyataan. Keduanya terlalu tipis sebagai bunyi. Juga intonasi ketika baris kata itu meloncat dari bibirnya tak pernah benar aku mengerti.

Mulutnya hanya sedikit terbuka dan wajahnya berpaling menjauhi wajahku. Bibirnya seperti tak bergidik, seakan-akan bukan lidahnya yang bicara.

Aku belum pernah ikut kursus membaca gerak bibir, pun, pada hampir sore begini aku tak ingin banyak bicara. Beberapa tahun ini, aku sudah melatih diriku sendiri untuk tak jadi sentimentil, teruya di kala senja luruh.

read more "Yang (belum) Selesai"

Banda: Ironi dan Harapan.

BANDA: IRONI DAN HARAPAN

(Resensi Pendek Film Banda, The Dark Forgotten Trail)





Banda adalah sebuah ironi. Bertahun lalu, kalimat pendek itu ialah kesimpulan segera setelah membaca Banda karya Willard A Hanna. Malam kemarin, menyaksikan Banda the dark forgotten trail saya merasakan kegetiran serupa. 

Banda memang adalah semacam ironi. Kepulauan Banda, Gugusan kepulauan penghasil pala yang ratusan tahun lalu menggerakan petualang bangsa-bangsa itu kini hanyalah sebuah pojokan sepi di teater sejarah. Hari-hari dimana Rempah-rempah, utamanya Pala, dan Banda mempengaruhi sejarah dan ekspedisi bangsa-bangsa telah ditakdirkan selesai sejak Inggris membawa Pala dan menanamnya di belahan bumi berbeda. Nyatanya episode kegemilangan Banda itupun adalah sebenarnya ironi, betapa tidak kegemilangan Banda pada periode petualangan samudera itu dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh penduduk pribumi dan bangsa-bangsa sepanjang Nusantara.
read more "Banda: Ironi dan Harapan."

Ambon Bercerita: Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !

Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !


Seorang pengunjung memperhatikan foto-foto yang dipamerkan di depan pension cafe, sebelum pembukaan.
Bagaimana seharusnya warga Ambon bercerita tentang kotanya ? 

Pertanyaan ini sesungguhnya bukan pertanyaan sederhana. Pada pertanyaan semacam ini, kehidupan harus dirangkum dalam beberapa kalimat padat yang runtut tanpa amputasi pada konteks. Maka itu, tak semua orang bisa menceritakan kotanya dengan baik tanpa terjebak pada tema-tema populer jua besar yang gempita di kepala banyak orang. Itu sebabnya seringkali orang harus dituntun bersahabat secara lebih rapat dengan kehangatan kota di dalam dirinya sendiri untuk lepas dari hal-hal umum disekitarnya. Pendeknya orang harus berlatih untuk lebih jujur pada diri sendiri bila hendak mengabdi pada kesederhanaan.

Pameran #ambonbercerita_1 yang diinisiasi molucca project dan paparisa #ambonbergerak sepertinya hendak memulai usaha menuntun warga kota ini terutama orang mudanya kepada kejujuran atas kota yang mereka tinggali. Ajakan kegiatan ini, sejak mula, adalah membiasakan warga Ambon untuk meresapi kotanya dengan mengucap pelan abjad kota dimana dia dibesarkan secara rohani melalui visual dan kata-kata. 

Theo (@perempuansore), inisiator pameran ini, menyatakan, kurang lebih, “tindakan kecil memanerkan foto-foto karya fotografer amatir yang menangkap kota melalui gawai berkamera ini bermaksud mendorong warga Ambon untuk menceritakan kecintaannya pada ambon dengan lebih jujur, juga sebagai penyeimbang narasi-narasi besar tentang Ambon, bahkan Maluku.  

read more "Ambon Bercerita: Narasi-narasi Major dalam Pameran tentang hal-hal Minor !"