Total Anarchy Society. Could we take care ourselves ?


A Society that manages to take care itself para punkers menyebutnya sebagai total anarchy society. Mereka menggambarkannya sebagai keadaan dimana keteraturan sosial tercapai melalui moral obidience dan kesepahaman yang tinggi atas posisi hak dan kewajiban antar tiap manusia. Mereka memimpikannya sebagai nature state of humanity, sebagai asali dari kehidupan. Sementara kita, diluar pikiran mereka memahaminya sebagai model yang hanya mungkin eksis dalam surga.

Lalu atas nama kesederhanaan berpikir, kita menyimpulkan mereka sebagai pemimpi, sebagai pengkhayal yang bahkan lebih utopis dari marx dan engels yang mendambakan masyarakat tanpa kelas. Kita dengan sederhana, lupa serta tanpa sengaja mengindahkan jawaban dari pertanyaan mendasar apakah kita bisa mengurus diri kita sendiri tanpa aturan dan pemerintah. 
“ could we take care ourselves? as an individual, as a society ?

Sejarah kemanusiaan telah membuktikan pada hidup bahwa manusia selalu punya cara evolutif untuk menyelesaikan persoalan yang dialami. Manusia selalu bisa bertahan dan tak gundah untuk berubah dalam rangka mempertahankan eksistensi hidup.

Manusia melalui interaksi dan komunikasi (bahkan pada tingkat paling dasarpun), sejak awal peradaban telah belajar untuk menyatukan potensi-potensi yang dimiliki untuk melipatgandakan upaya mengatasi persoalannya sendiri. Manusia dalam perjalanan evolusinya telah belajar untuk hidup sebagai kesatuan yang saling bergantung dan membutuhkan, yang kemudian mampu merumuskan sebuah konsep penyelesaian masalah bersama dalam penyerahan wewenang dan tanggung jawab melalui bentuk kekuasaan.


Sejak itu, manusia mungkin tak pernah lagi benar-benar berdiri sebagai individu di dalam kumpulan melainkan hadir sebagai kumpulan yang berisi individu-individu dengan tujuan sama. Individu-individu telah melebur dalam kesepakatan dan konsensus untuk mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah. Individu-individu sebagaimana tesis locke dan hobbes tentang
social contract theory dan consent theory telah menyerahkan dirinya pada kekuasaan yang lebih tinggi yang disebut pemerintah.

Pemerintah (dalam konteks paling literal) ini adalah organ yang kemudian bertanggung jawab untuk mencukupi, menyelesaikan dan mengatasi persoalan-persoalan dan kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat yang membentuk dan menyerahkannya kekuasaan dan wewenang itu (kata republik, dari
res publica itu mungkin berasal dari pikiran mendasar ini). Singkatnya, dalam proses lahirnya kesatuan masyarakat hukum yang lebih rumit dan kompleks yang bisa kita sebut apa saja itu, perjalanan ke-manusia-an sebagai individu mulai diatur dan kemudian mengenal eskapisme dan kambing hitam.

Maka itu, pada titik yang semestinya menjadi awal kebebasan dan keteraturan manusia itu. Sebagian punkers mungkin menandainya sebagai hari gelap sejarah kemanusiaan. Sejak saat itulah, mungkin, pengkhianatan terhadap eksistensi nilai kemanusiaan manusia sebagai mahluk bebas dan mandiri menurut mereka dilakukan.


Tulisan ini jelas tidak ingin mempertentangkan tentang konsep anarki dan berpemerintahan sebagai kutub yang saling berlawanan. Kita, (atau mungkin cuma saya) jelas tak mungkin menafikan keberadaan pemerintah. Tokh keberadaan organ kekuasaan yang diserahi tanggung jawab dan wewenang itu adalah juga fakta dan perjalanan sejarah kemanusiaan. Apalagi, sayangnya, saya adalah juga keparat, sekrup kecul dalam mesin pemerintahan itu. 
Selain itu dalam kerangka penyelesaian masalah dimasa ini, kita jelas dan tak mungkin tak menghormati kepraktisan dari adanya pemerintahan itu. 

Selain itu, manusia banyak dalam tingkat kepatuhan moral homo homini lupus seperti saat ini tentu masih membutuhkan law and order yang dipaksakan oleh kekuasaan (tentu saja dalam level yang dapat diterima). Lagipun, sadar atau tak sadar, setiap kita nyatanya masih membutuhkan keranjang sampah dan kambing hitam atas masalah yang menimpa kita. Jari telunjuk kita tentu masih membutuhkan menuding.


Pemerintah, dalam segala model evolusi kekuasaan, dengan demikian adalah keniscayaan.

Meyakini keberadaan pemerintah sebagai state of nature tentu tak berarti menafikan kenyataan betapa banyaknya struktur kekuasaan yang bobrok. Meyakini bahwa pemerintah akan tetap ada tak berarti melupakan bahwa organ yang 
seharusnya menyelesaikan masalah itu nyatanya adalah masalah itu sendiri. Meyakini keberadaan pemerintah dengan demikian tak akan lepas dari pertanyaan, 'apa gunanya memiliki pemerintah bila kita harus tetap menyelesaikan masalah-masalah kita sendiri ? Apa gunanya mematuhi sesuatu yang tak mendatangkan kebaikan bagi keinginan-keinginan kita.

Secara sederhana tanpa ingin membenarkan pemerintah, saya ingin mengatakan bahwa dalam kompleksitas dan kerumitan serta debat dalam pikiran yang akan terus berlangsung, sesungguhnya pemerintah akan berubah sesuai perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya. Pada titik ini saya hendak menghimbau agar kita menghindari debat ayam dan telur yang tak perlu mengenai apakah masyarakat yang harus berubah ataukah pemerintah yang selayaknya merubah masyarakat.


Tulisan ini hanya hendak mengusulkan sebuah kompromi yang hari-hari ini juga sudah disepakati sebagai bagian dari paradigma berpemerintahan. Sebuah kompromi yang saya sebut pada akhirnya menyadari kebenaran nilai humanisme sosial bahwa masyarakat perlu dilibatkan dan disadarkan bahwa pada dasarnya mereka tak perlu menunggu pemerintah untuk menyelesaikan masalah mereka bila mereka mampu menyelesaikannya. kompromi yang dalam bahasa yang lebih sederhana adalah fokus dari apa yang dimaksud sebagai governance dan empowerment itu.


Kemanusiaan kita hari-hari ini sesungguhnya harus kembali pada nilai asal kita yang membuat kita percaya bahwa, sebagai manusia, sebagai individu yang berhimpun dalam masyarakat, bisa menyelesaikan masalah kita sendiri. Bahwa kita bisa mempengaruhi dan merubah pemerintah bila kita mau merubah keadaan. Bahwa kita bisa membantu kerja organ yang sudah terlalu tua itu, memindahkan sedikit bebannya agar dia bisa segar dan mendapat waktu untuk memperjuangkan kemudaannya kembali dalam sejarah melalui perubahan kita.


Anda boleh menyebut pikiran ini terlalu optimis dan sederhana dalam berpikir. Itu memang yang dikehendaki. Optimisme dan kesederhanaan bertindak namun penting itu perlu hari-hari ini. Terutama karena pemerintah itu tokh bukan hanya bangunan dan mesin ketik. Pemerintah itu hakikatnya adalah kumpulan individu-individu juga, hidup bersama kita dan bertetangga. Kita yang berubah akan juga merubah mereka, menyadarkan mereka bahwa tanggung jawab mereka demikian besar, berharga, berguna dan seharusnya membuat mereka bangga.


Lepas dari itu. Kesadaran bahwa
“ we can take care ourselves“ atau lebih lazim dikenal punkers dengan Do it your self itu, teramat penting untuk menolong diri kita sendiri saat menyelesaikan masalah yang terlambat disikapi pemerintah yang lamban itu. Kita dengan begitu tidak sedang berbuat untuk pemerintah dan tujuan-tujuannya, kita sebenarnya sedang berbuat untuk diri kita sendiri dan tujuan-tujuan kita. Untuk kelangsungan keberadaan kemanusiaan kita.

Bila pemerintah berubah, dan itu adalah sebuah kemestian sejarah. Maka kita tak perlu menunggu kapan itu terjadi. Kita bisa merubahnya melalui sikap kita, perilaku kita, melalui cara pandang kita terhadap diri kita, masalah kita dan lingkungan serta masalah di sekitar kita. Kita tak perlu menunggu pemilu untuk perubahan, karena sesungguhnya perubahan disediakan setiap hari dalam hati kita bila kita mau menggunakannya. Dan pemerintah yang berubah karena usaha kita adalah bonus bagi keinginan kita untuk berjuang, berubah dan menyelesaikan tiap masalah secara mandiri.


Kita bisa mengurus dan merubah keadaan. Mulai dari diri kita sendiri. Bangsa ini sudah membuktikan bahwa kita bisa mengurus diri kita dalam banyak peristiwa yang direkam waktu. Kita sudah membuktikan bahwa indonesia, kemanusiaan kita serta kemampuan natural kita untuk survive masih ada lewat sumbangan untuk tsunami aceh, untuk gempa padang, untuk prita, untuk bilqis dan untuk banyak lagi keadaan lagi bila kita ingin.


Dengan begitu kita tak perlu mencibir sebuah mimpi hanya eksis di surga, tak perlu menghambakan perubahan pada hanya perubahan PEMERINTAHAN. Kita bisa berpegangan tangan. Karena dunia dan surga bisa berhubungan bila kita menginginkannya.

Cailah...  
 hueeeek.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar